Latest News

Materi Agama Katolik Kelas XII: Dialog dan Kerjasama Antar Umat Beragama Kristen Protestan


1. Munculnya Protestanisme

Credit to Wikipedia
Reformasi Protestan adalah skisma dari Gereja Katolik Roma yang diinisiasi (meski bukan yang paling awal) oleh Martin Luther dan dilanjutkan oleh John CalvinHuldrych Zwingli, dan reformis lainnya pada abad XVI. Martin Luther terkenal dengan 95 tesis. Luther mengkritisi tentang penjualan indulgensi oleh Gereja, tentang Paus yang tidak memiliki otoritas atas api penyucian dan dan pengangkatan Orang Kudus yang tidak terdapat pada kitab suci. Pada protestanisme dikenal perubahan-perubahan doktrin seperti sola scriptura dan sola fide. Meski inti dari reformasi ini adalah masalah teologi, namun dengan berbagai faktor juga melatarbelakangi hal tersebut seperti; bangkitnya nasionalisme, skisma barat yang merapuhkan kepercayaan pada Paus, skandal korupsi Kuria Roma, efek dari kemanusiaan, dan pelajaran baru tentang Renaissance yang mempertanyakan pemikiran tradisional




2. Konsep Teologi Protestan

Credit to Katolisitas

1.

Sola Scriptura


Gereja-gereja Kristen Protestan berpegang kepada Kitab Suci sebagai satu-satunya sumber kebenaran (Sola Scriptura). 
Gereja Katolik tidak menolak bahwa Kitab Suci adalah pilar kebenaran, namun Gereja Katolik tidak menganggap bahwa satu-satunya pilar kebenaran hanyalah Kitab Suci. Penolakan ini disebabkan karena: 
(a) Kitab Suci sendiri tidak pernah mengatakan demikian; bahkan menekankan pentingnya pengajaran para rasul yang disampaikan secara lisan maupun tertulis (lih. 2 Tes 2:15) dan otoritas kepemimpinan dalam Gereja (lih. Mat 16:18-19; 18:18); 
(b) Gereja lahir terlebih dahulu sebelum Kitab Suci, 
(c) Dengan inspirasi Roh Kudus, Gereja-lah yang menentukan kitab-kitab mana yang masuk dalam Kitab Suci, 
(d) Sola Scriptura tanpa ada otoritas yang menentukan interpretasi yang benar, terbukti menghasilkan perpecahan gereja.
Keempat hal ini menunjukkan bahwa berpegang kepada ketiga pilar ini (Tradisi, Kitab Suci, dan Magisterium Gereja) sebetulnya lebih alkitabiah, jika dibandingkan berpegang kepada hanya Kitab Suci saja.

2.

Konsep tentang Otoritas


Gereja-gereja Protestan menganggap bahwa semua umat beriman mempunyai otoritas dan bertanggung jawab secara langsung kepada Kristus dan tidak perlu mentaati pengajaran dari siapapun.
Gereja Katolik percaya bahwa Kristus memberikan otoritas kepada Rasul Petrus (lih. Mat 16:16-19) dan penerusnya, yaitu para Paus, sebab Ia menghendaki agar Gereja bertahan sampai akhir zaman (lih. Mat 28:19-20); dan juga otoritas diberikan kepada para rasul lainnya – yang diteruskan oleh para uskup (lih. Mat 18:18; Yoh 20:21-23). Mereka inilah yang disebut dengan Magisterium Gereja. Dan fungsi pengajaran ini ditegaskan dalam Luk 10:16 “Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.” Karena Kristus sendiri yang memberikan otoritas kepada para Paus dan para uskup, maka umat Katolik dengan kerendahan hati mengikuti apa yang diperintahkan Kristus dan memberikan diri untuk mentaati pengajaran yang diberikan oleh Magisterium Gereja – yang bersumber pada Kitab Suci dan Tradisi Suci. Dengan otoritas ini, maka Gereja Katolik dapat melewati sejarah selama 2000 tahun dengan tetap mengajarkan pengajaran iman yang sama dari satu generasi ke generasi yang lain.


3.

Konsep ekklesiologi


Bagi gereja-gereja Protestan, gereja dipandang hanya sebagai persatuan umat beriman yang percaya kepada Kristus, walaupun antar gereja mempunyai pengajaran yang berbeda-beda.
Bagi Gereja Katolik, Kristus mendirikan satu Gereja, yaitu Gereja Katolik (lih. Mat 16:16-19). Gereja Katolik inilah yang menjadi Tubuh Mistik Kristus (Ef 1:23; Ef 5), yang mempunyai empat tanda –satu, kudus, katolik dan apostolik –, serta menjadi sakramen keselamatan bagi seluruh bangsa. Gereja juga harus dimengerti sebagai cara (means) dan tujuan (end). Dengan kata lain, Gereja adalah pemberian Allah, tanda kasih Allah kepada umat Allah yang harus diterima, dijaga dan sekaligus menjadi tujuan, karena didirikan oleh Kristus, dijiwai oleh Roh Kudus dan mengantar umat manusia kepada keselamatan.

4.

Sakramen dan Liturgi


Gereja- gereja Kristen Protestan seperti Lutheran hanya mengenal Sakramen Baptis dan Ekaristi (yang disebut Perjamuan Kudus), kadang termasuk juga Sakramen Tobat. Bahkan sakramen- sakramen inipun mempunyai arti berbeda dengan apa yang dipercayai oleh Gereja Katolik. Mereka tidak mempercayai bahwa baptisan adalah cara yang dipakai oleh Kristus  untuk menyelamatkan manusia. Dan Perjamuan Kudus juga hanya dianggap sebagai simbol.
Gereja Katolik mengenal adanya tujuh sakramen: Sakramen Pembaptisan, Sakramen Ekaristi, Sakramen Penguatan, Sakramen Tobat, Sakramen Perminyakan Suci (Pengurapan orang sakit), Sakramen Imamat dan Sakramen Perkawinan. Ketujuh sakramen ini diinstitusikan sendiri oleh Kristus sebagai cara-cara yang umum untuk menyalurkan rahmat-Nya kepada umat Allah. Dan Gereja Katolik mempercayai bahwa Kristus hadir secara nyata (Tubuh, Darah, Jiwa dan ke-Allahan) dalam rupa roti dan anggur yang dipersembahkan oleh imam dalam Ekaristi Suci (lih. Mat 20:26-28; Mrk 16:22-25; Luk 22:19-20; 1Kor 11:24-26)

5.

Konsep Keselamatan


Gereja- gereja Kristen Protestan percaya bahwa hanya karena iman (sola fide), manusia diselamatkan (Ibr 11:6)
Bagi umat Katolik, keselamatan adalah merupakan anugerah Allah dan hal ini juga dipercayai oleh gereja-gereja Protestan. Namun, selain rahmat Allah, Kitab Suci juga mencatat hal-hal lain, seperti: pentingnya iman untuk keselamatan (lih. Ef 2:8), baptisan yang menjadi syarat keselamatan (lih. Yoh 3:5), orang akan diadili menurut perbuatannya (Mat 16:27, 1Pet 1:17). Dengan demikian, Gereja Katolik tidak mempercayai hanya iman saja (sola fide) dalam keselamatan seperti yang dipercayai oleh gereja-gereja non-Katolik, karena Kitab Suci secara keseluruhan memang tidak pernah mengatakan bahwa hanya karena iman saja, kita diselamatkan. Bahwa iman menjadi syarat keselamatan (Ibr 11:6) adalah benar, namun bukan iman saja.

5.

Maria dan Para Kudus


Gereja- gereja Kristen Protestan memandang bahwa orang-orang yang telah meninggal sama sekali terpisah dari umat Allah yang masih mengembara di dunia ini.
Gereja Katolik mempercayai bahwa semua orang dipanggil untuk menjadi rekan sekerja Kristus. (lih. 1Kor 3:9) Kalau kita semua dipanggil menjadi teman sekerja Kristus, apalagi Maria Bunda Allah, dan para kudus. Bunda Maria dan para kudus adalah mereka yang sungguh telah bekerjasama dengan rahmat Allah, sehingga mereka dapat berpartisipasi dalam karya keselamatan Allah. Gereja Katolik melihat bahwa kematian tidaklah memisahkan orang-orang yang telah dibenarkan oleh Allah dengan umat Allah di dunia ini (lih. Rom 8:38-39).




3. Pandangan Gereja Katolik terhadap Gereja Protestan

Pandangan Gereja Katolik terhadap Gereja Protestan terdapat pada dokumen Konsili Vatikan II,

Nostra Aetate (1965)  art 1

Semua bangsa merupakan satu masyarakat, mempunyai satu asal, sebab Allah menghendaki segenap umat manusia mendiami seluruh muka bumi (Kis 17:26). Semua juga mempunyai satu tujuan terakhir yakni Allah, yang penyelenggaraanNya, bukti-bukti kebaikanNya dan rencana penyelamatanNya meliputi semua orang (Keb 8:1; Kis 14:17; Rom 2:6-17; 1Tim 2:4).

Unitatis Redingratio (1964), art 19 dan seterusnya menyerukan:

"..... Konsili suci ini sungguh menginginkan, supaya usaha-usaha putera-puteri Gereja katolik makin mengalami kemajuan terpadu dengan usaha-usaha saudara-saudai yang terpisah, dan supaya jangan sampai ada hambatan terhadap jalan Penyelenggaraan ilahi, jangan pula ada prasangka-prasangka terhadap dorongan-dorongan Roh Kudus di masa mendatang. Kecuali itu Konsili menyatakan keyakinannya, banyak maksud yang suci untuk mendamaikan segenap umat kristen menjadi satu dalam Gereja Kristus yang satu dan tunggal melampaui daya-kekuatan serta bakat-kemampuan manusiawi. Oleh karena itu konsili menaruh harapan sepenuhnya pada doa Kristus bagi Gereja, pada cinta kasih Bapa terhadap kita, dan pada kekuatan Roh Kudus. “Harapan tidak mengecewakan: sebab cinta kasih Allah telah dicurahkan ke dalam hati kita berkat Roh Kudus, yang dianugerahkan kepada kita” (Rom 5:5) ....."

Juga dalam Ensiklik Ut Unum Sint 

yang dikeluarkan St. Yohanes Paulus Agung pada tahun 1995 memperlihatkan bahwa Gereja Katolik Roma secara resmi bergerak menuju kesatuan.

« PREV
NEXT »