Latest News

Simak Siaran Langsung Ekaristi Kanonisasi Bunda Theresa Kalkuta di Sini!

Sumber gambar: ucatholic.com

Besok, September 4 2016, akan menjadi hari 'penerimaan' Bunda Theresa Kalkuta dalam jajaran Santo dan Santa dalam Gereja Katolik.

Perayaan Ekaristi Kanonisasi akan dipimpin oleh Yang Mulia Bapa Suci Fransiskus di Lapangan Basilika Santo Petrus, Vatikan. Perayaan Ekaristi akan dimulai pada pukul 10.30 waktu setempat atau 15.30 WIB.

Kanonisasi ini dilakukan setelah Gereja memiliki seluruh syarat agar kanonisasi dapat dilakukan (termasuk didalamnya mujizat). Pada Desember 2015 Yang Mulia Bapa Suci Fransiskus mengesahkan mukjizat seorang dari Brazil sembuh dari infeksi otak akibat virus setelah berdoa melalui perantaraan Bunda Theresa pada 2008. Proses dari pengangkatan orang kudus dapat dilihat melalui dua bagan dibawah ini

diambil dari: oviedocatholic.org
diambil dari: digitaljournal.com



















Anda dapat menyaksikan siaran langsung melalui website ini (via akun youtube Vatikan, klik play dibawah ini): Baca! Homili Paus Fransiskus pada Kanonisasi Bunda Teresa Kalkutta

Sekilas Biografi Beata Theresa (dikutip dari hidupkatolik.com)
Nama aslinya Agnes Gonxha Bojaxhiu. Ia lahir 26 Agustus 1910 di Skopje, Makedonia. Pada 27 Agustus 1910 ia dibaptis. Orangtuanya, Nikola dan Drana Bojaxhiu, keturunan Albania. Ayahnya bekerja di bidang konstruksi bangunan dan berdagang obat-obatan. Keluarga Bojaxhiu tergolong penganut Katolik taat. Selain sangat aktif di gereja, sang ayah pun terjun di bidang politik.

Tahun 1919, ayahnya wafat Pasca ditinggal ayahnya, Agnes menjadi sangat dekat dengan ibunya. Sang ibu mendidiknya menjadi perempuan yang penuh kasih.

Agnes belajar di SD yang dikelola biarawati, dan melanjutkan di SMP negeri. Ia aktif di paduan suara Hati Suci, bahkan sering diminta menyanyi solo. Saat berziarah ke kapel Madonna dari Letnice di Pegunungan Hitam Skopje, ada suara memanggilnya untuk menjadi biarawati. Saat itu, ia berusia 12 tahun.

Selang enam tahun, tepatnya 1928, Agnes berangkat ke Irlandia dan bergabung dengan Suster-Suster Loreto di Dublin. Namanya pun diganti menjadi Sr Maria Teresa, berpatron pada St Thérèsia Lisieux.

Setahun kemudian, Sr Teresa hijrah ke Darjeeling, India, untuk menjalani masa novisiat. Kaul pertamanya diucapkan pada Mei 1931. Lalu, ia dikirim ke Kalkuta. Di kota itu, ia ditugaskan mengajar di SMA St Maria, sekolah khusus anak perempuan yang dikelola Suster-Suster Loreto untuk miskin. Ia mendedikasikan diri bagi usaha pengentasan kemiskinan lewat pendidikan.

Pada 24 Mei 1937, Sr Teresa berkaul kekal. Sesuai tradisi biarawati Loreto, ia menyematkan panggilan ‘Bunda’ (Ibu) di depan namanya. Namanya pun menjadi Bunda Teresa. Ia tetap mengajar di SMA St Maria.

Pada 10 September 1946, Bunda Teresa mendengar lagi panggilan Tuhan. Ketika sedang naik kereta api dari Kalkuta ke kaki bukit Himalaya untuk retret, ia merasa Kristus berbicara padanya. Ia diminta melayani orang paling miskin di Kalkuta.

Karena telah berkaul ketaatan, Bunda Teresa tak dapat meninggalkan biaranya tanpa izin resmi. Setelah hampir satu setengah tahun melobi, Januari 1948, ia diizinkan Uskup Agung Kalkuta Mgr Ferdinand Périer SJ untuk menggeluti panggilan barunya. Dengan mengenakan sari putih bergaris biru, Bunda Teresa meninggalkan Biara Loreto. Setelah enam bulan berlatih dasar-dasar medis, ia terjun ke daerah paling kumuh di Kalkuta untuk pertama kalinya. Di benaknya hanya ada satu tujuan, “merawat manusia yang paling tidak diinginkan, paling tidak dicintai, dan paling tidak dirawat” sepanjang hidupnya.

Bunda Teresa pun membuka sekolah dan mendirikan rumah bagi orang sekarat. Sarana misi itu ia peroleh setelah mendesak pemerintah kota. Pada Oktober 1950, pengakuan kanonik atas kongregasi yang didirikannya, Misionaris Cinta Kasih, dikeluarkan Vatikan. Kongregasi ini didirikan bersama 12 anggota, sebagian besar guru atau siswa SMA St Maria.

Berita tentang misinya segera tersebar ke seluruh dunia. Donasi pun mengalir tiada henti. Dengan sumbangan itu, Bunda Teresa membangun fasilitas bagi kaum papa. Pada era 1950an hingga 1960an, ia membangun koloni bagi penyandang kusta, panti asuhan, rumah perawatan, klinik keluarga, dan klinik kesehatan, yang mobilitasnya tinggi.

Setelah beberapa tahun menderita komplikasi, Bunda Teresa wafat pada 5 September 1997, dalam usia 87 tahun. Saat wafatnya, anggota Misionaris Cinta Kasih sudah berjumlah sekitar 4.000 orang, dengan ribuan relawan, yang menjadi anggota 610 lembaga yang tersebar di 123 negara.

Setelah wafat, pribadinya menjadi perbincangan banyak orang, khususnya pasca korespondensi pribadinya diterbitkan pada 2003. Masyarakat pun melihat kesalehan hidupnya. Buku itu mengungkapkan krisis iman yang ia derita selama 50 tahun.

Bunda Teresa menjadi salah satu tokoh pembela kemanusiaan terbesar abad XX. Pada 1979, ia dianugerahi Nobel Perdamaian atas perjuangannya untuk kaum miskin dan terbuang. Bersama para susternya, ia mengartikulasikan empati dan komitmen tulus pada orang yang termiskin dalam kepiawaian manajemen organisasi. Hasilnya, terbentuk organisasi Misionaris Internasional yang efektif membantu kaum miskin di seluruh dunia.

Johanes Paulus II menggelarinya Beata pada 19 Oktober 2003. Pada 2002, Vatikan mengesahkan mukjizat kesembuhan Monica Besra atas tumor abdomen berkat perantaraan doa Bunda Teresa.


« PREV
NEXT »