Latest News

MATERI AGAMA KELAS XI SEMESTER II: MENGHARGAI HIDUP




Standar Kompetensi:

Memahami karya Yesus Kristus yang mewartakan kerajaan Allah dan penerusnya oleh gereja, sehingga dapat mengembangkan hidup bersama dan menggereja sesuai dengan nilai-nilai Kerajaan Allah.

Kompetensi Dasar:
Memahami hakikat hak asasi manusia, sehingga terpanggil untuk ikut serta menegakkan hak-hak asasi manusia.


KLIK! LAGU
terhubung dengan SoundCloud, lagu renungan sambil belajar

Dasar Biblis:
  1. Perjanjian Lama
    Manusia adalah citra Allah (kej 1:26-27).Bangsa Israel dalam perjanjian lama menganggap hidup, khususnya hidup manusia, amat berharga. Umat Allah percaya akan yang cinta hidup, mengandalkan Allah yang membangkitkan orang mati, dan membela hidup melawan maut. Tuhan itu Allah orang hidup, maka firman Tuhan: “Jangan Membunuh!” (Kel 20:13)  Seseorang hanya dapat dikatakan membunuh jika dia melakukan perbuatan itu dengan sengaja dan orang yang dibunuh itu tidak bersalah dan tidak membuat perlawanan. Jadi, hukuman mati dan terjadinya pembunuhan dalam perang diperbolehkan.
  2. Perjanjian Baru
    Kitab Suci Perjanjian Baru tidak hanya melarang pembunuhan, tetapi juga menaruh sikap hormat dan kasih akan hidup. Hal itu dijelaskan oleh sabda Yesus sendiri dalam kotbah-Nya di bukit:”Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita : jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata Kepadamu: setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! Harus di hadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! Harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala” (Mat 5: 21-22).

Kata Gereja untuk contoh masalah berkaitan dengan menghargai hidup
  1. Bunuh diri dan pembunuhan
    Allah adalah Tuhan atas hidup dan mati. Kecuali dalam konteks mempertahankan diri secara sah, tak seorangpun boleh membunuh orang lain (2258-2262, 2318-2320)
    Pencabutan kehidupan adalah penistaan yang bertentangan dengan Allah. Hidup manusia itu kudus, dimiliki oleh Allah. Bahkan kehidupan kita sendiripun hanya dipercayakan kepada kita. Allah telah memberi kita karunia kehidupan; Hanya ia yang dapat mengambilnya kembali. Ada pengecualian untuk
    Seseorang yang menyerang hidup orang lain dapat dan harus dihentikan jika perlu dengan membunuh si penyerang itu sendiri. (2263-2265, 2321)

  2. Aborsi

    Pembunuhan atau merencanakan pembunuhan dilarang. Membunuh orang tidak bersenjata pada masa perang dilarang. Aborsi sejak dari pembuahan dilarang. Bunuh diri, perilaku melukai diri sendiri dan merusak diri dilarang. Eutanasia mempercepat kematian orang yang sudah sekarat dengan alasan apapun juga dilarang. (2268-2283, 2322-2325)
  3. Eutanasia
    Kata “eutanasia aktif” dan “eutanasia pasif” sering kali membingungkan dalam perdebatan. Masalahnya, orang yang sekarat itu sebaiknya dibunuh atau dibiarkan mati. Disebut eutanasia aktif jika memang dilakukan tindakan langsung untuk mempercepat kematian. Disebut eutanasia pasif apabila tindakan yang dilakukan menghentikan pengobatan atau usaha penyembuhan lain karena hal itu tidak berguna lagi untuk memperpanjang hidup pasien. Semua hal itu tentu saja bertentangan dengan prinsip bahwa hidup itu kudus dan harus dibela. Bagaimanapun kepedulian terhadap hidup tidak boleh terhenti. Demi penghormatan terhadap martabat manusia, tidak dilarang untuk menggunakan obat-obat penghilang rasa sakit. Bahkan jika beresiko memperpendek usia pasien. Prinsipnya, penggunaan obat-obatan tersebut tidak bertujuan untuk mengakhiri kehidupan, melainkan untuk mengakhiri rasa sakit.
  4. Perang
    Konsili Vatikan II menyatakan bahwa ”perang belum enyah dari kehidupan manusia” dan “ setiap hari, di mana pun juga, perang meneruskan permusuhannya” (Gaudium et Spes, art.79). “juga kalau tidak berkecamuk peperangan, dunia senantiasa dilanda kekerasan dan pertentangan antar manusia” (Gaudium et Spes, art. 83). Selama”pemerintah-pemerintah mempunyai kewajiban berat menjaga kesejahteraan rakyat dan membela rakyat”, jika perlu juga dengan perang. Menurut tradisi, perang pembelaan seperti itu adil jika dilaksanakan secara terbatas, tidak melanda penduduk sipil, demi menegakkan keadilan dan tidak menciptakan ketidakadilan baru. Dalam Ensiklik Pacem in Terris, Paus Yohanes XXIII mengatakan bahwa perang tidak lagi boleh dipandang sebagai sarana menegakkan kembali keadilan. Keamanan masyarkat tidak dapat dijamin dengan tertib yang dikontrol dengan senjata. Masyarakat hanya menjadi aman jika dalam kebersamaan diakui hak asasi setiap orang.
  5. Hukuman mati
    Gereja menolak hukuman mati karena hukuman mati itu “kejam dan tidak perlu”. (Paus Yohanes Paulus II, Santa Louis, 27 Januari 1999) Setiap negara hukum prinsipnya memiliki hak untuk menghukum kejahatan dengan pantas. Dalam Evanggelium Vitae (1995), Paus tidak mengatakan bahwa penerapan hukuman mati sebagai hukuman yang tidak dapat diterima dan tidak sah. Mengambil hidup dari pelaku kriminal adalah tindakan yang ekstrem yang hanya dapat dipertimbangkan oleh negara “bilamana benar-benar perlu”.Hal ini dilakukan jika satu-satunya cara untuk melindungi masyarakat hanya dengan membunuh pelaku kriminal tersebut. Namun kondisi tersebut, kata Paus Yohanes Paulus II, “sangatlah jarang, bahkan mungkin tidak ada”.


Bila ada sub bab materi ini yang kurang harap hubungi admin via email [email protected]

Sumber: Buku Katekismus Youcat
« PREV
NEXT »