Latest News

MATERI AGAMA KELAS X SEMESTER II: TRADISI GEREJA




KOMPETENSI DASAR
Siswa mengenal Kitab Suci dan Tradisi sebagai tolok ukur tertinggi dari imannya terhadap Yesus Kristus dan ajaran-Nya.

TUJUAN PEMBELAJARAN
Pada akhir pelajaran, siswa dapat:
  1. memberi contoh bermacam-macam upacara atau kepercayaan yang didasarkan pada tradisi setempat;
  2. menjelaskan arti tradisi dalam Gereja Katolik;
  3. menjelaskan arti Injil Yoh 21: 24-25 dalam kaitannya dengan tradisi dalam Gereja Katolik;
  4. menjelaskan persamaan dan perbedaan “Syahadat Singkat” dan “Syahadat Panjang”;
  5. menyebutkan macam-macam tradisi yang ada dalam Gereja Katolik;
  6. menjelaskan bahwa Kitab Suci bersama tradisi dipandang sebagai norma iman yang tertinggi.




MATERI
Tradisi Suci adalah istilah teologi yang digunakan  di dalam tradisi Katolik Roma, Ortodoks Timur dan Ortodoks Oriental, untuk merujuk pada dasar penting kekuasaan gereja. Kata tradisi diambil dari kata Latin trado, tradere yang berarti mewariskan.
Istilah deposit of faith (Tradisi Suci, Kitab Suci, Magisterium Gereja) merujuk pada keseluruhan wahyu ilahi Yesus Kristus, dan diturunkan kepada para Rasul dan Gereja perdana, yang kemudian diteruskan sampai pada kita sekarang ini terutama dalam bentuk pewartaan verbal dan tulisan-tulisan (bdk 2 Tes 2:15; lihat juga 1 Kor 11:2).
Selanjutnya dikatakan dalam Magisterium Gereja demikian:
“Gereja dalam ajaran, hidup, dan ibadatnya, melestarikan dan meneruskan kepada semua keturunan, dirinya seluruhnya, dan imannya seutuhnya.” (Dei Verbum Art. 8)

Tradisi Gereja terus ada berkat kuasa Roh Kudus dalam sejarah Gereja, dan terus menerus hingga saat ini. Contoh tradisi Gereja adalah paham Trinitas, pribadi Kristus, Bunda Allah, Maria diangkat ke Surga,dan juga Syahadat yang selalu menjadi bagian dalam Gereja Katolik. Contoh lain dapat dilihat dalam blog tradisikatolik.

Syahadat
Gereja mendapat tugas dari Kristus untuk mengabarkan ajaran Kristus kepada seluruh makhluk (Markus 16 : 15), karena itu maka Gereja merasa perlu untuk memiliki suatu rumusan singkat yang merangkum seluruh ajaran Kristus agar bisa diungkapkan dan diingat semua orang. Dengan adanya rumusan tersebut, diharapkan “supaya kamu seiya sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir” (I Korintus 1 : 10). Rumusan itu sendiri diharapkan bisa bertindak “sebagai contoh ajaran” (II Timotius 1 : 13). 
Di kemudian hari dalam pergelutannya melawan ajaran-ajaran sesat, Gereja merasa perlu menyusun rumusan pengakuan iman untuk memberi garis batas tegas antara ajaran yang benar dan ajaran yang salah. Hal ini terjadi karena Gereja menghadapi ajaran sesat yang berkembang dari hal yang relatif umum menuju ke hal yang relatif khusus. Dua contoh yang sering kita gunakan adalah
1.  Syahadat Nikea Konstantinopel (antara 325-381). merupakan hasil dari dua konsili ekumenis yang berlangsung di Nicea pada tahun 325 dan Konstantinopel pada tahun 381. Rumusan klik disini.
2. Syahadat Para Rasul (sebelum tahun 390). Pengakuan iman yang merupakan warisan khas iman Kristen Barat ini menurut tradisi dibuat oleh para rasul. Lebih lengkapnya klik disini. Rumusan klik disini.



KITAB SUCI DAN TRADISI

Lalu, mana yang lebih penting, tradisi atau kitab suci? Jawabannya semua penting. Bersama Magisterium Gereja, Tradisi dan Kitab Suci merupakan deposit of faith.

Yohanes 21:24-25 menegaskan pentingnya Tradisi disamping Kitab Suci. Secara jelas, Yohanes mengatakan bahwa "Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu. Selain itu  Magisterium Gereja mengatakan:

KGK 82: Dengan demikian maka Gereja yang dipercayakan untuk meneruskan dan menjelaskan wahyu, “menimba kepastiannya tentang segala sesuatu yang diwahyukan bukan hanya melalui Kitab Suci. Maka dari itu keduanya [baikTradisi maupun Kitab Suciharus diterima dan dihormati dengan cita rasa kesalehan dan hormat yang sama.” (Konsili Vatikan II, Dei Verbum 9).
Dengan demikian, kita ketahui Gereja Katolik tidak mengatakan bahwa Kitab Suci “lebih tinggi/ lebih penting” dari Tradisi Suci, melainkan menekankan kesatuan antara keduanya, yaitu Kitab Suci dan Tradisi Suci pada tingkat yang sama, karena keduanya berasal dari Tuhan dan mengarahkan umat beriman kembali kepada Tuhan. Gereja Katolik tidak “merendahkan” Kitab Suci dalam hal ini, melainkan hanya menyampaikan bahwa Kitab Suci bukan satu-satunya pedoman iman karena memang Tuhan menyampaikan Sabda-Nya tidak hanya melalui Kitab Suci.

« PREV
NEXT »