Latest News

Konspirasi Batin, Minggu 24 April 2016


gambar dan renungan oleh RD Paskalis Bayu Edvra

"Aku memberikan perintah baru kepadamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi..."

Jadi pelopor atau perintis hal-hal dan kebiasaan baru itu nggak gampang. Kenapa? Pertama, harus konsisten memperjuangkan yang dipelopori itu. Kedua, harus berhadapan dengan orang lain dan diri sendiri yang masih terikat budaya lama. Misalnya pelopor pertanian organik di desa, dia harus konsisten memperjuangkan, dan harus berjuang supaya orang mau berubah dari budaya lama ke budaya baru, sekaligus melawan keinginan diri sendiri untuk melanjutkan budaya lama. Ini tanggung jawab besar dan nggak gampang!
Perintah untuk saling mengasihi dikatakan oleh Yesus sebagai "perintah baru"; dan pesan ini diucapkannya di hadapan murid-muridnya. Artinya, kitalah yang diwarisi untuk meneruskan "proyek" perintis "budaya cinta kasih" Yesus. Ketika sebelumnya orang sibuk dengan ketaatan pada Allah dan aturan-aturan, sekalipun demi itu orang harus mengorbankan orang lain, Yesus memberikan dasar baru: yang penting cinta kasih. Semua hal, termasuk ketaatan pada Allah, mesti ditempatkan dalam kerangka "cinta kasih" ini.
Dan kitalah yang ditunjuk untuk meneruskan proyek cinta kasih ini. Berat? Pasti...namanya juga pelopor. Tapi jangan berhenti mengasihi dengan berbagai alasan. "lha berat kok"; "ya kan butuh proses..normal", "realitanya nggak gampang, Romo..", "ya dia harus minta maaf dulu dong", dan segudang alasan lain. Manusia lama kita yang ingin membenci, ingin menang sendiri, ingin membalas, sering memberontak. Tapi, kalau sebagai perintis kita tidak mampu konsisten dengan perbuatan kasih dan mau memikul tanggung jawab lebih berat, lantas siapa yang akan melanjutkan perintah agung Kristus itu? Bila di sekitar kita banyak orang sukar mengasihi, haruskah kita jadi seperti mereka? Apakah seorang perintis menyerah pada realitas di sekitar?
Kemenangan iman sebelum Kristus adalah ketika mampu mengalahkan musuh, ketika mampu membalas, ketika memamerkan bahwa Allahnya lebih baik dan lebih benar, ketika mampu menunjukkan sesuatu yang tak mungkin ditunjukkan orang lain. Lewat salib, Kristus membalikkan segalanya. Kemenangan iman di kayu salib adalah ketika "aku disakiti, aku dikhianati dan menanggung penderitaan begitu dalam, tetapi aku tidak kehilangan iman, harapan, dan terutama, cinta kasih".
kita adalah para perintis peradaban kasih Kristus. Kita kalah bukan ketika Allah kita direndahkan; bukan ketika kita dihina dan tak mampu membalas; bukan ketika usaha kita tak berbuah...
Kita kalah ketika kita kehilangan cinta kasih. Sekecil apa pun...
« PREV
NEXT »